Minggu, 30 November 2008

ARUNG JERAM

ARUNG JERAM

Dalam suatu raker Store Manager MDS di Sukabumi skeitar tahun 2000 , store manager di beri kesempatan untuk mengikuti kegiatan arung jerang ( rafting ) di sungai Citarik menuju Pelabuhan Ratu di Sukabumi. Kegiatan yang menguras energi dan pikiran serta mental ini memang mampu menggali insight ( hikmah) unutk diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan di dunia nyata sehari-hari.
Arung jeram merupakan salah satu olah raga yang tergolong beresiko tinggi. Itulah sebabnya olah raga ini sarat dengan standar dan prosedur yang harus ditaati demi keselamatan dan kenyamanan bersama.
Inti dari kegiatan ini adalah kerja sama yang tangguh dalam melewati setiap jeram yang memang sulit untuk di prediksi sebelumnya. Satu-satunya alat yang dipergunakan –selain perahu karet- adalah dayung ( fadel). Dayung pun digerakkan mengikuti komando yang dipimpin oleh seorang skipper ( kapten). Terkadang kapten berteriak untuk mengkomandoi awaknya agar belok kekiri atau untuk mendayung lebih kuat. Kadang ia bersuara normal dalam memberikan pengarahan . Sang kapten kelihatan ‘galak’, justru pada saat menghadapi jeram yang membahayakan. Semua anggota dilarang keras mengambil inisiatif sendiri, baik berhenti maupun mendayung duluan tanpa diperintah / dikomando.
Irama dayung mengikuti awak yang berada paling depan, sedangkan kapten berada pada posisi di belakang. Semua awak tidak merasa dimarahi oleh sang kapten karena semua merasa bukan tunduk pada sang kapten, melainkan tunduk dan taat pada standar keselamatan perjalanan perahu tersebut.
***
BUKANKAH secara makro, perjalanan kehidupan perusahaan mirip dengan kegiatan arung jeram ?. Ditengah-tengah ombak ketidakpastian maka semua pegawai seyogianya tunduk dan taat pada sistem, aturan dan prosedur ( SOP ) yang berlaku secara konsisten dan konsekuen. Ibarat jeram yang tidak dapat diprediksi sebelumnya, begitupun setiap perubahan yang terjadi dalam lingkungan eksternal perusahaan. Tidak ada kesempatan untuk mencari pembenaran, apalagi untuk mengelak. Satu-satunya cara untuk melewati jeram tersebut adalah dengan melewatinya. Hampir tidak ada waktu maupun celah untuk mencari siapa yang salah, terutama dalam situasi kompetisi yang pelik ini.
Satu-satunya untuk mengarungi ‘jeram-jeram’ perusahaan saat ini adalah dengan mmelihara kekompakan tim. Ambisi yang berlebihan dari tiap anggota tim (pegawai) untuk meraih jabatan di perusahaan tanpa melihat kompetensi, justru akan membuat perusahaan semakin tidak terarah. Penyerapan anggaran yang tidak dilandasi oleh nilai-nilai kejujuran dan kejernihan hati akan semakin membuat perusahaan lemah dalam mengarungi perubahan yang terjadi karena mengalami kebocoran di sana – sini .
Layaknya seorang Skipper ( Kapten) perahu, setiap pemimpin di tiap lini manapun di perusahaan seyogianya harus mampu memainkan peran yang proporsional dan profesional. Seorang kapten tidak akan ewuh pekewuh untuk menegur dengan keras awaknya yang tidak menjalankan prosedur dengan benar. Seorang kapten pun tidak perlu menerima pujian atau fasilitas dan pelayanan dari awaknya karena kepemimpinannya yang baik. Tujuan mereka semata-mata adalah sampai tujuan dengan selamat dan semua peserta mampu menikmati perjalanan yang penuh tantangan tersebut . Salah satu kunci ketaatan pada sistem dan prosedur adalah pengawasan ( controlling ) yang optimal. Ibarat Kapten yang senantiasa memperhatikan fadel (dayung) awaknya serta arah dayung yang dilakukan, demikian pula setiap pemimpin harus mampu melakukan pengawasan yang dilandasi kepedulian ( care ) yang tinggi.
Skipper ( kapten ) adalah orang yang sangat kompeten dalam melakukan seluk beluk kegiatan arung jeram, dari mulai penyiapan alat-alat, perjalanan, dan setelah kegiatan berlangsung. Dia mampu mengarahkan ke mana perahu dijalankan, seberapa jauh harus berbelok, kapan saatnya mundur, dan kapan saatnya maju adalah karena memang di mampu ( kompeten ) melakukan hal tersebut. Ketika ada banyak jeram yang harus dilewati, berdasarkan kompetensi dan analisis kemampuan tim, dia mampu melewatinya dengan efektif. Oleh karena itu, dalam mengarungi “jeram” perusahaan yang semakin kompetetif saat ini, tidak ada pilihan lain selain para pemimpin di tiap lini haruslah orang yang berkompeten.
Penetapan orang yang tepat pada tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat pula, diharapkan mampu memimpin biduk perusahaan maupun unit kerjanya untuk tampil maksimal. Ibarat seorang kapten, maka para pemimpin di setiap lini di perusahaan pun seyogianya menguasai sistem, aturan, maupun prosedur ( SOP ) yang berlaku untuk tiap-tiap aktivitas kegiatan unit kerjanya. Model pemimpin yang efektif adalah ketika untuk kali pertama ia menunjukkan keteladanannya melakukan seluruh sistem dan prosedur ( SOP) dengan baik, dengan demikian ia pun mampu dan “berkuasa” untuk melakukan pengawasan yang optimal.
Nikmatnya melakukan kegiatan arung jeram adalah karena ada jeramnya untuk diarungi. Nimatnya menjalani kehidupan perusahaan kita adalah adalah justru karena setiap waktu kita berhadapan dengan jeram-jeram kehidupan bisnis yang selalu berubah-ubah. Disinilah kekompakan tim diuji, kompetensi pemimpin diasah, serta sikap mental diarahkan lebih positif.
Terbukti Matahari masih berkiprah selama 50 tahun, dengan dinahkodai kapten kapal - kapten kapal yang handal serta kompeten.
Semoga saduran dari buku “ Half Full-Half Empty”- Parlindungan Marpaung bisa menjadikan inspirasi bagi kita semua karyawan Matahari Dept Store.
Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.( Laskar Pelangi)
By _ Sudaryanto
daryanto.iq_86@yahoo.co.id
http://daryanto86.blogspot.com/